Perjalanan dari Mataram menuju Santong, kita tempuh selama dua jam naik motor dengan kecepatan normal. Sampai di Santong, oleh mas Adi, motor saya dititipkan di rumah salah satu warga,nah dari situ kita lanjutkan dengan berjalan kaki menuju Air Terjun. Menurut info dari mas adi, lokasi air terjunya ada di antara dua gunung kembar, dia pun sambil menunjuk ke arah timur, dimana disana memang ada dua puncak bukit yang bentuknya sama, wuih kalau dilihat sekilas, lokasinya jauh banget booo.
Baru beberapa meter berjalan, si Mas Adi tiba tiba mendekat ke arah
pagar kebon dari tanaman, kirain rutenya memang harus lewat situ, eh
ternyata dia metik buah kecil berwarna merah yang bentuknya mirip
strawberry, kata dia itu adalah Strawberry Santong, hohoho.. Asem
buahnya, gak enak
Sebelum mulai masuk wilayah perkebunan coklat, ada warung makanan.
Disitu kita membeli perbekalan berupa air minum dan roti, kata dia sih
harus beli makan biar gak kelaparan, alhamdulilah kita udah bawa nasi
bungkus yang udah kita beli di Mataram.
Di deket warung ini ada persimpangan, kalo yang ke arah bawah yaitu
menuju DAM, kita ambil jalur yang atas. Awal awal masih enteng nih,
jalurnya masih datar, cuma kadang kadang menanjak dikit. Di sepanjang
awal perjalanan ini kita banyak bertemu orang yang sedang mengangkut
balok balok kayu, dari info mas ardi sih dihutan sana memang marak
pembalakan liar, karena masih banyak pohon pohon besar, dan memang hutan
disini kurang pengawasannya.
Belum terlalu jauh berjalan, sampai di persimpangan, dimana di sebelah
kiri ada berugak dan dua bangunan yang mirip Toilet Umum, yang
sepertinya sudah tidak berfungsi lagi, sedangkan di sebelah kanan ada
jalan menurun. Di sini si mas adi berhenti, lalu menjelaskan bahwa jalan
ke kanan yang menurun ini adalah jalan menuju Air Terjun Tiu Teja, dia
nanya apakah mau mampir sini dulu atau lanjut, saya sih bilang nanti aja
pulangnya mampir.
Checkpoint kita yang pertama yaitu di sebuah jembatan kayu yang di
bawahnya mengalir sungai jernih berbatu batu raksasa, yang mana ini
adalah sumber air dari Air Terjun Tiu Teja yang persimpangannya kita
lewati tadi. Disini dpilih jadi lokasi istirahat karena di depan sana
menanti jalur menanjak yang lumayan curam dan panjang.
Woyooo ternyata bener, setelah dari jembatan tadi, jalurnya menanjak
terus, ini sih bener bener mendaki gunung nih. Sampai akhirnya sampai
juga di jalur mendatar, disini banyak banget pohon kakao dan kopi, serta
beberapa pohon pisang. Nah kebetulan ada kakao yang udah mateng ini, si
mas adi pun metik satu buat dimakan kita kita. Cara makan nya yaitu,
buah kakao nya dibelah, nah didalamnya ada segerombolan bulatan bulatan
putih yang menempel pada tulang buah di tengah, itulah yang kita emut
dan isep isep, tapi yang dikonsumsi bagian selaput putih2 nya aja ya,
bijinya yang warna coklat/item itu keras dan pahit.... hmmm asem asem
manis, segerrr.
Perubahan kondisi sekitar dari perkebunan menjadi hutan lebat ditandai
dengan adanya pintu gerbang yang terbuat dari batang pohon besar ini,
awalnya saya mengira ini adalah dua pohon yang berbeda, tapi setelah
melihat ke atas, wow ini ternyata satu pohon besar, dimana kayu yang di
sebelah kanan ini adalah bagian akar gantung dari pohon utama wuih udah
berapa ratus tahun nih usia pohon ini...
Yuph, semakin lama perjalanan semakin sulit saja, kondisi jalur sekarang
menanjak kembali, dengan kemiringan yang lumayan curam, ditambah jalur
yang sempit membelah semak belukar, maklum jalur ini sangat jarang
dilalui manusia, yaa berharap saja gak ketemu macan ato singa di sini
ya.
Setelah
sampai di Pohon Besar yang miring, kita keluar jalur, jalur yang sudah
terbentuk itu terus ke arah atas, sedangkan kita belok kanan menuruni
gunung, nah disini si mas adi mulai berusaha keras membuka jalur,
dilihat lihat sih ini udah lama gak dilewati manusia, rimbun, bener
bener seperti buka jalur. Dia hapal jalurnya karena jalurnya udah
ditandai dengan potongan tali rafia warna biru yang diikat di pohon
pohon, jadi tinggal ikuti itu aja.
Tantangan
berikutnya yaitu kita harus menghindari daun gatal, entah nama pohonny
apa, pokoknya kalau kita menyentuh daun itu, kita akan merasakan gatal
gatal selama dua hari, beuhh jangan sampai dah nyentuh daun itu, mas adi
dengan sabar nunjukin mana daun yang harus kita hindari, karena kita
kita belum bisa bedain daun mana yang bikin gatel, lha hampir sama semua
daun daunnya.
Sejak dari Pohon Miring tadi, jalur terus menurun, ini sih gampang ya,
cuma harus hati hati aja agar gak kepeleset, lha sebelah kanan ini
jurang jeh, kepikiran nanti pas baliknya ini lho, bakal naik terus
dengan kondisi yang menyeramkan gini, beuh.
Setelah sekitar dua jam setengah berjalan kaki dengan susah payah,
akhirnya kita bisa sedikit melihat derasnya aliran Air Terjun Sekeper,
Alhamdulilah yaaa sebentar lagi sampai, Aaaaaaa pengen teriak rasanya..
Fotoan dulu di spot ini.
Tantangan belum selesai, karena kita masih harus menuruni tebing hingga
sampai ke sungainya, untung saja gak ujan ya, kalau ujan saya yakin gak
bakal bisa lewat sini. Meskipun tadi udah bisa melihat, ternyata butuh
waktu setengah jam untuk bisa bener bener mendekat ke air terjun nya.
Subhanallah..... Indah banget air terjunnya, Sumpah Super duper
indah..... JUARA..!!! Layak dah dikatakan Air Terjun ini Air Terjun
tertinggi di Lombok, emmang bener bener tinggi, jangan ditanya berapa
meter tingginya ya, saya gak ngukur.
Setelah puas foto foto narsis, kita makan bersama... Setelah tenaga
terkuras abis buat trekking ke sini, ini saatnya diisi dengan nasi
bungkus, hohoho, berhubung kita tiga orang sedangkan cuma bawa nasi dua
bungkus, alhasil nasinya digabung jadi satu dan dimakan bareng bareng
bertiga, aseeek so sweet yaaaa..
Setelah kenyang, kita pun gak nyia nyiain waktu hanya untuk duduk duduk
aja, rasanya sayang banget udah jalan kaki jauh jauh selama tiga jam
kalo gak nyebur. Di sini ada satu kolam yang airnya tenang banget,
jernih banget dan yang pasti dingiiin banget... brrrrr. Nyebur dah kita.
Setelah nyebur, si mas adi mengajak kita untuk selangkah lebih dekat ke
Air Terjun nya, nah disini kita harus melewati bebatuan besar yang licin
ditumbuhi lumut, harus bener bener hati hati, saya udah gak berani
megang kamera disini karena kencengnya cipratan air yang terbawa oleh
angin.
Aaaaaaaaaa teriak saya disini, maha karya Tuhan yang luar biasa,
bersyukur banget saya bisa sampai sini, melihat ke depan atas, ribuan
liter air jatuh dengan bebas gak ada abisnya, balik ke belakang,
cipratan air yang kebawa angin terlihat seperti hujan abadi yang gak ada
redanya.
Kemudian mas adi mengajak kita untuk ke pojok kiri air terjun, di sana
ada kucuran kecil air panas, waw waw waw, tapi eh tapi berhubung kaki
saya lagi gak fit, dan medan nya harus naik mendekat ke dinding tebing
dengan ngelewatin batu batu besar, saya gak ikutan, jadi cuma mas adi
ama agus aja yang kesana. Dan benar saja, menurut si agus airnya memang
hangat tapi alirannya kecil, sepertinya sih dari atas suhunya panas,
tapi karena mungkin sedikit tercampur ama aliran deras Air Terjun yang
suhunya dingin, aliran air panas tadi turun suhunya jadi hangat.
Waktu udah menunjukkan jam dua siang, kita pun harus bergegas pulang
agar gak kesorean pas sampai desa nanti, perkiraan waktu tiga jam
(seperti saat berangkat tadi), jam lima sore baru sampai di pusat desa.
Dengan jalur yang sama seperti tadi kita berangkat, ternyata kita butuh
waktu setengah jam lebih lama. Alhasil dimana rencana awal kita mau
mampir ke Air Terjun Tiu Teja pun gagal, ya sudahlah... Setelah sampai di tempat nitip motor tadi, kita bertiga langsung menuju ke Batu Mesir yang gak jauh di sini, nah Batu Mesir ini adalah tempat nongkrong nya anak gaul Santong di sore hari buat ngelihat Sunset. (lebih lengkapnya silakan tunggu postingan berikutnya yaa)
Alhamdulilah, selesai sudah petualangan penuh perjuangan hari ini,
rasanya bangga nih bisa jadi salah satu dari beberapa manusia yang udah
menginjakkan kaki di Air Terjun Sekeper, yang notabene Air Terjun
Tertinggi di Pulau Lombok :)
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya :)











0 komentar:
Posting Komentar