Jakarta, Sumbawanews.com.- Duet dua putera asal NTB Fahri Hamzah dan
Sunardi Ayub yang saat ini menjadi anggota DPR RI akan menjadi penentu
berhasil tidaknya Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) terbentuk sebelum April
2014. Sunardi Ayub merupakan satu-satunya wakil NTB yang memiliki
jabatan sebagai pimpinan badan kelengkapan di DPR RI yakni sebagai salah
satu unsur pimpinan di Baleg DPR RI
Rapat Pleno Badan Legislasi
(Baleg) dan Komisi II DPR RI, Rabu (2/10) sore berlangsung meriah dengan
kehadiran Fahri Hamzah sebagai anggota Baleg yang pertama kali
mengikuti rapat pembahasan DOB tersebut. Fahri Hamzah sengaja diutus
oleh Fraksi PKS untuk mengawal pembahasan DOB terutama usulan PPS di
Baleg DPR RI.
Rapat yang dimulai pukul 15.35 WIB dan
diperpanjang hingga 2 kali karena terjadi perdebatan serius antara
Komisi II sebagai pengusul dan Baleg sebagai institusi yang dilegalkan
oleh Undang-Undang untuk melakukan harnmonisasi dan pendalaman atas
materi peraturan pemerintah tentang syarat daerah pemekaran.
Fahri
Hamzah yang sudah dikenal sangat vokal, dalam rapat tersebut berbeda
pandangan dengan rekannya sesama anggota Baleg yang kritis menyorot
Pemekaran karena dianggap membebani keuangan Pemerintah.
Menurut
Fahri, seharusnya anggota Baleg melihat pemekaran sebagai aspirasi
masyarakat didaerah. "Otonomi adalah membuat daerah tidak lagi nyusu ke
pusat, hingga daerah bisa menentukan sendiri pengelolaan daerahnya, itu
hakekat dasar pemekaran," ungkap Fahri menanggapi pandangan anggota
Baleg lainnya.
Dijelaskannya, Korupsi didaerah tidak bisa
dijadikan alasan gagalnya otonomi, "orang didaerah korupsi justru karena
sistem dan rezim keuangan kita tidak pernah mengalami desentralisasi
bahkan pasca reformasi dan amandemen UUD," terangnya.
Orang
daerah terlibat korupsi akibat sistem sentralistik yang membuat daerah
harus loby ke pusat karena memang uang adanya di pusat serta daerah
tidak memiliki kewenangan mengatur SDA nya akibat UU 33 2004 tentang
perimbangan keuangan pusat daerah yang sangat merugikan daerah
"Jadi
korupsi itu tidak ada hubungan dengan otonomi tapi karena sistem
keuangan kita memang memaksa Bupati atau kepala daerah antri di banggar
DPR dan Kementerian," urai Fahri
Menurut Fahri, Pemekaran daerah
adalah cara untuk mendekatkan kue pembangunan, tidak mungkin daerah di
pelosok papua bisa membangun sekolah, rumah sakit dn jembatan jika tidak
dibuat pemerintahan baru.
"APBN kita dalam tahun 2014 ditambah
APBNP mencapai 2000 trilyun, dan itu sangat cukup untuk mensejaterakan
masyarakat dengan pemekaran jika pemerintah pusat mau berbagi kue,"
terangnya.
Begitu serunya perdebatan dalam rapat pleno ini,
akhirnya Baleg yang dipimpin oleh Ignatius Mulyono dari Fraksi Demokrat
mengajukan Sunardi Ayub dari Fraksi Hanura untuk memimpin panja
Konsiyering DOB yang diusulkan oleh Komisi II DPR RI.
Usulan ini
mendapat persetujuan dari semua anggota rapat pleno yang hadir, dan
pembahasan DOB akhirnya disepakati menjadi 3 gelombang yakni yakni
Kloter pertama sebanyak 25 DOB dengan 12 DOB Papua dan 13 DOB non Papua.
Kloter kedua sebanyak 20 DOB dan Kloter ketiga sebanyak 20 DOB.
Informasi
yang dihimpun Sumbawanews.com, konsiyering gelombang pertama rencananya
akan berlangsung pada tanggal 4, 5 dan 6 Oktober ini, berselang tiga
hari kemudian dilanjutkan dengan konsinyering gelombang tahap
kedua.(sn01)
Kamis, 03 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar